Rabu, 16 Oktober 2013

Psikologi Dakwah (Sebuah Pengantar)



 Oleh :

Ustadz H. Darlis Dawing, Lc., M.S.I.
(Dosen UIN Alauddin Makassar)


“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS An-Nahl [16]: 125).
Ayat di atas sangat penting untuk dipahami secara arif dan bijaksana oleh seluruh masyarakat, terlebih khusus bagi para da’i dan muballigh.  Dalam ayat tersebut secara sepintas menyinggung persoalan metode dakwah yang bagus, sehingga pesan utama yang hendak disampaikan oleh da’i bisa diterima dan diamalkan oleh para jama’ah sebagai pendengar.
Al-Qur’an adalah kitab dakwah. Demikian slogan dari sejumlah ulama yang banyak bergelut dengan dunia dakwah. Ambillah misalnya Sayyid Qutub, Muhammad Gazali, Yusuf Qardawi dll. Mereka menyatakan bahwa kehadiran Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. adalah untuk merubah kondisi masyarakat Jazirah Arab yang gelap gulita pada saat itu. Bahkan peradaban dunia secara umum yang sedang mandeg dan berada dalam kegelapan. Maka, tidak mengherankan kemudian Al-Qur’an seringkali menamakan dirinya sebagai nur (cahaya). Cahaya yang menerangi dunia secara umum, dan Jazirah Arab secara khusus. Di mana pada saat itu Arab dikenal dengan masa kejahiliyaan.
Berdasarkan fakta di atas, maka menjadi da’i bukanlah pekerjaan biasa. Da’i dalam arti sederhana “menyeru”, yaitu menyeru kepada kebaikan, menyeru dari yang tidak islami kepada yang islami. Dengan demikian, da’i merupakan pewaris Rasulullah sebagai muballiq (penyampai) risalah Allah kepada umat manusia yang berupa cahaya tersebut. Para da’i adalah mereka yang mendapat mandat secara tidak langsung dari Allah, setelah Rasulullah Saw wafat. Da’i atau penceramah sangat mulia di sisi Allah. Dalam al-Qur’an sangat banyak ayat yang menyinggung betapa pentingnya dakwah untuk ditegakkan. Misalnya dalam surah Ali Imran: 104
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôtƒ n<Î) ÎŽösƒø:$# tbrããBù'tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$#
 Hendaklah di antara kamu satu kelompok menyerukan pada kebaikan dan menyuruh mengerjakan hal-hal yang baik dan melarang sesuatu yang mungkar, mereka itu adalah orang-orang yang beruntung

Maka, untuk menjadi da’i pun tidak sekali jadi. Ia memerlukan proses yang panjang. Proses itu tidak terbatas pada pembentukan mental untuk tampil di hadapan orang banyak, tapi tak kalah penting adalah pembekalan isi atau bahan ceramah yang akan disampaikan masyarakat. Dalam sebuah adigum ‘orang tidak akan bisa memberi sesuatu yang tidak dimilikinya”. Hal itu penting mengingat terjadinya pergeseran imej seorang da’i di masyarakat, khususnya di Tanah Bugis. Terkadang kita tidak bisa membedakan antara da’i dan pelawak. Seorang da’i tapi bergaya pelawak. Jamaah tertawa terbahak-bahak dengan ceramahnya. Pesan keagamaan yang ia hendak sampaikan tidak membekas di benak para pendengar. Yang berkesan hanyalah lelucon yang tiada arti.
Sementara jika kita kembali membuka lembaran sejarah dakwah Rasulullah, hanya dua bentuk ceramah Rasulullah, yaitu basyiran wa nazira: membawa berita kebahagian dan memberi peringataan yang keras. Terkadang Rasulullah membuat jamaah dan para sahabat ceria dengan wajah berseri-seri karena janji Tuhan bagi mereka yang beriman, tapi pada saat yang sama mereka menangis tersedu-sedu kerena mendengar ancaman Allah yang sangat pedih bagi mereka yang lalai dan membangkan. Dengan kata lain, Rasulullah Saw selalu memberi dorongan untuk berbuat kebajikan. Pada saat yang sama, ia juga memberi ancaman-ancaman. Kondisi ini tidak berarti bahwa Rasulullah orang sangat serius dan jamaah tidak pernah tertawa dibuatnya. Dalam kondisi tertentu, Rasulullah membuat lelucon tapi pada batas-batas tertentu. Bahkan lelucon Rasulullah penuh makna dan pesan keagamaan.
Dalam dewasa ini, menjadi da’i seperti Rasulullah bukan hal yang mustahil. Seharusnya seorang da’i menjadikan inspirasi metode dakwah Rasulullah. Lelucon tidaklah haram jika hal itu tidak berlebihan, dan tujuannya untuk menarik simpati dan menyegarkan pikiran para pendengar. Tapi, jangan sampai kesan dakwah hanya pada lelucon tersebut, sementara pesan agama yang kita sampaikan tidak ada yang melekat dalam benak para jamaah.
Dengan demikian, untuk menjadi da’i profesional ada sejumlah faktor yang perlu menjadi perhatian. Faktor internal (faktor dari dalam) dan faktor eksternal (faktor dari luar). Faktor internal yang dimaksud adalah persiapan diri, dalam hal ini persiapan mental, kesabaran, optimisme, dan bekal seorang da’i. Selain itu, faktor akhlak juga tak kalah penting. Seorang da’i harus sadar sebagai panutan masyarakat. Segala tingkah laku akan menjadi contoh bagi mereka. Segala gerak-gerik si da’i akan menjadi sorotan mereka. Hal itu dimaklumi karena da’i adalah orang terpercaya dan penerus misi Rasulullah. Ia pun harus bertingkah seperti seorang nabi, karena akhlak akan memberi pengaruh luar biasa terhadap masyarakat. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa dakwah bil hal (dengan tingkah laku) lebih efektif daripada dakwah bil qaul (ceramah di mimbar). Pesan ceramah melaui tingkah laku yang baik akan berpengaruh langsung kepada masyarakat, ketimbang sebatas perkataan. Konsep itu senada dengan ancaman Al-Qur’an kepada orang beriman menyerukan sesuatu tapi dia sendiri yang melanggarnya (Q.S. as-Saff: 2).
Sementara faktor eksternal yang perlu menjadi perhatian seorang da’i adalah pertama, mengenal medan dakwah. Medan atau objek dakwah adalah sasaran ceramah kita. Dengan kata lain para jamaah. Mengenal mereka secara umum akan membantu kelancaran dan efektivitas ceramah kita. Ceramah di hadapan para ilmuan tentu beda dengan ceramah di hadapan rakyat biasa. Berhadapan dengan orang petani juga berbeda jika berhadapan dengan orang pejabat. Dalam bahasa dakwahnya “likulli maqam maqal”, dakwah harus sesuai dengan situasi dan kondisi objeknya.
Misalnya, karakerter orang yang berilmu membutuhkan penjelasan yang ilmiah dan masuk akal, beda halnya dengan karakter orang petani, mereka butuh penjelasan yang sederhana dengan memberikan contoh-contoh yang mereka kenal, atau yang akrab sekitar mereka. Penjelasan ilmiah tidak akan efektif bagi mereka. Begitupula dengan berhadapan orang kaya dengan pejabat, mereka butuh sindiran dengan memberian perumpamaan ataupun melalui kisah-kisah nabi dan orang bijak. Selanjutnya, ceramah di acara ta’ziah tentu sangat berbeda dengan ceramah nasehat perkawinan. Begitupula sangat berbeda dengan khutba jum’at.
 Memperhatikan kondisi tersebut, pesan dakwah yang kita sampaikan akan mudah diterima dan memberi pengaruh sehingga mereka mengamalkan. Itulah yang dikenal dengan psikologi dakwah, dakwah dengan menyentuh kejiwaan para jamaah. Atau bahasa lainnya, menyeru sesuai dengan kadar pengetahuan objek (‘ala qadri ‘uqulihim).
            Metode dakwah semacam di atas, merupakan metode dakwah al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an adalah kitab dakwah yang sangat luar biasa pengaruhnya. Al-Qur’an tidak secara serampangan menyeruh kaum Qurasiy di Mekkah dan Yahudi dan Nasrani di Madinah. Ia mampu memengaruhi mereka dengan metodenya yang khas. Salah satu metode al-Qur’an yang paling ampuh adalah melalui kisah-kisah nabi umat terhadulu. Kisah dalam al-Qur’an memang sangat urgen. Menurut A. Hanafi bahwa kisah dalam al-Qur’an sekitar 1600 ayat, belum lagi kisah-kisah orang arif dalam al-Qur’an seperti lukman, ashab al-kahfi dll.
Realitas tersebut menjadi alasan kenapa kisah al-Qur’an menjadi metode dakwah al-Qur’an yang paling efektif. Kisah al-Qur’an membuat para pendengarnya memahami dan mengambil pelajaran darinya. Misalnya, di saat al-Qur’an behadapan dengan kaum Quraisy yang menolak ajakan Rasulullah. Saw. al-Qur’an menghadirkan kondisi umat-umat terdahulu yang mendapat sisksaan dan kehancuran karena mendustakan risalah para nabinya. Dengan demikian, mereka secara langsung tergerak hatinya dan merasa was-was dengan kondisi mereka. Mereka takut akan ditimpah musibah seperti halnya umat terdahulu. Dalam kondisi ini al-Qur’an sudah menyentuh hati dan menggugah pikiran mereka.
            kedua, faktor eksternal yang perlu dimengerti adalah berlemah lembut kepada objek (jamaah). Menyampaikan pesan dengan nada yang enak didengar, tidak berdebat langsung di hadapan orang banyak. Tapi, melakukan pendekatan secara personal, dari hati ke hati. Metode tersebut akan lebih mudah diterima oleh masyarakat dibandingkan dengan “menyinggung” mereka secara langsung. Disinilah perlunya seorang da’i (penceramah) membedakan bahasa dakwah dan bahasa sehari-hari. Seorang da’i akan lebih bisa diterima dan berpengaruh jika ia memakai banyak perumpamaan dan kisah-kisah, ketimbang ia secara langsung menyinggung kemungkaran yang ada. Tidak berarti hal itu tidak tegas, tapi hanya sebagai metode untuk mengambil hati para jamaah.
Di samping itu, seorang dai harus sabar melewati proses panjang. Berdakwah tidak mungkin langsung bisa diterima oleh masyarakat, maka lakukan tahapan-tahapan dalam menyampaikan risalah dan ajaran al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri dalam berdakwah melakukan hal itu, misalnya keharaman khamar tidak langsung, tapi melalui tiga tahapan, yaitu tentang mudaratnya (Qs. 2: 219); Pelarangan sholat dalam keadaan mabuk (4:43); perintah menjauhi khamar (5:90) . Hal itu mengikuti kesiapan mental dan kondisi masyarakat Arab kala itu. Da’i sekarang juga bisa melakukan hal serupa. Jika kondisi masyarakat belum bisa menerapkan semua ajaran-ajaran Islam, maka diajak untuk meakukan sesuai dengan kemampuan. Sedikit demi sedikit mereka akan terbiasa dan merasa butuh dengan ibadah tersebut. Demikian pesan ayat di awal tulisan ini!

*** ***** ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar