Oleh :
Ustadz H. Darlis Dawing, Lc., M.S.I.
(Dosen UIN Alauddin Makassar)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,” (QS An-Nahl [16]:
125).
Ayat di atas sangat penting untuk dipahami secara arif dan
bijaksana oleh seluruh masyarakat, terlebih khusus bagi para da’i dan
muballigh. Dalam ayat tersebut secara
sepintas menyinggung persoalan metode dakwah yang bagus, sehingga pesan utama
yang hendak disampaikan oleh da’i bisa diterima dan diamalkan oleh para jama’ah
sebagai pendengar.
Al-Qur’an adalah kitab dakwah. Demikian slogan dari sejumlah
ulama yang banyak bergelut dengan dunia dakwah. Ambillah misalnya Sayyid Qutub,
Muhammad Gazali, Yusuf Qardawi dll. Mereka menyatakan bahwa kehadiran Al-Qur’an
kepada Nabi Muhammad Saw. adalah untuk merubah kondisi masyarakat Jazirah Arab
yang gelap gulita pada saat itu. Bahkan peradaban dunia secara umum yang sedang
mandeg dan berada dalam kegelapan. Maka, tidak mengherankan kemudian Al-Qur’an
seringkali menamakan dirinya sebagai nur (cahaya). Cahaya yang menerangi
dunia secara umum, dan Jazirah Arab secara khusus. Di mana pada saat itu Arab
dikenal dengan masa kejahiliyaan.
Berdasarkan fakta di atas, maka menjadi da’i bukanlah pekerjaan
biasa. Da’i dalam arti sederhana “menyeru”, yaitu menyeru kepada kebaikan,
menyeru dari yang tidak islami kepada yang islami. Dengan demikian, da’i
merupakan pewaris Rasulullah sebagai muballiq (penyampai) risalah Allah
kepada umat manusia yang berupa cahaya tersebut. Para da’i adalah mereka yang
mendapat mandat secara tidak langsung dari Allah, setelah Rasulullah Saw wafat.
Da’i atau penceramah sangat mulia di sisi Allah. Dalam al-Qur’an sangat banyak
ayat yang menyinggung betapa pentingnya dakwah untuk ditegakkan. Misalnya dalam
surah Ali Imran: 104
`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããôt n<Î) Îösø:$# tbrããBù'tur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztur Ç`tã Ìs3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd cqßsÎ=øÿßJø9$#
“Hendaklah di antara
kamu satu kelompok menyerukan pada kebaikan dan menyuruh mengerjakan hal-hal
yang baik dan melarang sesuatu yang mungkar, mereka itu adalah orang-orang yang
beruntung”
Maka, untuk menjadi da’i pun tidak sekali jadi. Ia memerlukan
proses yang panjang. Proses itu tidak terbatas pada pembentukan mental untuk
tampil di hadapan orang banyak, tapi tak kalah penting adalah pembekalan isi
atau bahan ceramah yang akan disampaikan masyarakat. Dalam sebuah adigum ‘orang
tidak akan bisa memberi sesuatu yang tidak dimilikinya”. Hal itu penting
mengingat terjadinya pergeseran imej seorang da’i di masyarakat, khususnya di
Tanah Bugis. Terkadang kita tidak bisa membedakan antara da’i dan pelawak.
Seorang da’i tapi bergaya pelawak. Jamaah tertawa terbahak-bahak dengan
ceramahnya. Pesan keagamaan yang ia hendak sampaikan tidak membekas di benak
para pendengar. Yang berkesan hanyalah lelucon yang tiada arti.
Sementara jika kita kembali membuka lembaran sejarah dakwah
Rasulullah, hanya dua bentuk ceramah Rasulullah, yaitu basyiran wa nazira:
membawa berita kebahagian dan memberi peringataan yang keras. Terkadang
Rasulullah membuat jamaah dan para sahabat ceria dengan wajah berseri-seri
karena janji Tuhan bagi mereka yang beriman, tapi pada saat yang sama mereka
menangis tersedu-sedu kerena mendengar ancaman Allah yang sangat pedih bagi
mereka yang lalai dan membangkan. Dengan kata lain, Rasulullah Saw selalu
memberi dorongan untuk berbuat kebajikan. Pada
saat yang sama, ia juga memberi ancaman-ancaman. Kondisi ini tidak berarti
bahwa Rasulullah orang sangat serius dan jamaah tidak pernah tertawa dibuatnya.
Dalam kondisi tertentu, Rasulullah membuat lelucon tapi pada batas-batas
tertentu. Bahkan lelucon Rasulullah penuh makna dan pesan keagamaan.
Dalam dewasa ini, menjadi da’i seperti Rasulullah bukan hal yang
mustahil. Seharusnya seorang da’i menjadikan inspirasi metode dakwah
Rasulullah. Lelucon tidaklah haram jika hal itu tidak berlebihan, dan tujuannya
untuk menarik simpati dan menyegarkan pikiran para pendengar. Tapi, jangan
sampai kesan dakwah hanya pada lelucon tersebut, sementara pesan agama yang
kita sampaikan tidak ada yang melekat dalam benak para jamaah.
Dengan demikian, untuk menjadi da’i profesional ada sejumlah
faktor yang perlu menjadi perhatian. Faktor internal (faktor dari dalam) dan
faktor eksternal (faktor dari luar). Faktor internal yang dimaksud adalah
persiapan diri, dalam hal ini persiapan mental, kesabaran, optimisme, dan bekal
seorang da’i. Selain itu, faktor akhlak juga tak kalah penting. Seorang da’i
harus sadar sebagai panutan masyarakat. Segala tingkah laku akan menjadi contoh
bagi mereka. Segala gerak-gerik si da’i akan menjadi sorotan mereka. Hal itu
dimaklumi karena da’i adalah orang terpercaya dan penerus misi Rasulullah. Ia
pun harus bertingkah seperti seorang nabi, karena akhlak akan memberi pengaruh
luar biasa terhadap masyarakat. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa dakwah bil
hal (dengan tingkah laku) lebih efektif daripada dakwah bil qaul
(ceramah di mimbar). Pesan ceramah melaui tingkah laku yang baik akan
berpengaruh langsung kepada masyarakat, ketimbang sebatas perkataan. Konsep itu
senada dengan ancaman Al-Qur’an kepada orang beriman menyerukan sesuatu tapi
dia sendiri yang melanggarnya (Q.S. as-Saff: 2).
Sementara faktor eksternal yang perlu menjadi perhatian seorang
da’i adalah pertama, mengenal medan dakwah. Medan atau objek dakwah
adalah sasaran ceramah kita. Dengan kata lain para jamaah. Mengenal mereka
secara umum akan membantu kelancaran dan efektivitas ceramah kita. Ceramah di
hadapan para ilmuan tentu beda dengan ceramah di hadapan rakyat biasa.
Berhadapan dengan orang petani juga berbeda jika berhadapan dengan orang
pejabat. Dalam bahasa dakwahnya “likulli maqam maqal”, dakwah harus
sesuai dengan situasi dan kondisi objeknya.
Misalnya, karakerter orang yang berilmu membutuhkan penjelasan
yang ilmiah dan masuk akal, beda halnya dengan karakter orang petani, mereka
butuh penjelasan yang sederhana dengan memberikan contoh-contoh yang mereka
kenal, atau yang akrab sekitar mereka. Penjelasan ilmiah tidak akan efektif
bagi mereka. Begitupula dengan berhadapan orang kaya dengan pejabat, mereka
butuh sindiran dengan memberian perumpamaan ataupun melalui kisah-kisah nabi
dan orang bijak. Selanjutnya, ceramah di acara ta’ziah tentu sangat berbeda
dengan ceramah nasehat perkawinan. Begitupula sangat berbeda dengan khutba
jum’at.
Memperhatikan kondisi
tersebut, pesan dakwah yang kita sampaikan akan mudah diterima dan memberi
pengaruh sehingga mereka mengamalkan. Itulah yang dikenal dengan psikologi
dakwah, dakwah dengan menyentuh kejiwaan para jamaah. Atau bahasa lainnya,
menyeru sesuai dengan kadar pengetahuan objek (‘ala qadri ‘uqulihim).
Metode dakwah semacam di atas, merupakan metode dakwah
al-Qur’an itu sendiri. Al-Qur’an adalah kitab dakwah yang sangat luar biasa
pengaruhnya. Al-Qur’an tidak secara serampangan menyeruh kaum Qurasiy di Mekkah
dan Yahudi dan Nasrani di Madinah. Ia mampu memengaruhi mereka dengan metodenya
yang khas. Salah satu metode al-Qur’an yang paling ampuh adalah melalui
kisah-kisah nabi umat terhadulu. Kisah dalam al-Qur’an memang sangat urgen.
Menurut A. Hanafi bahwa kisah dalam al-Qur’an sekitar 1600 ayat, belum lagi
kisah-kisah orang arif dalam al-Qur’an seperti lukman, ashab al-kahfi dll.
Realitas tersebut menjadi alasan kenapa kisah al-Qur’an menjadi
metode dakwah al-Qur’an yang paling efektif. Kisah al-Qur’an membuat para
pendengarnya memahami dan mengambil pelajaran darinya. Misalnya, di saat
al-Qur’an behadapan dengan kaum Quraisy yang menolak ajakan Rasulullah. Saw.
al-Qur’an menghadirkan kondisi umat-umat terdahulu yang mendapat sisksaan dan
kehancuran karena mendustakan risalah para nabinya. Dengan demikian, mereka
secara langsung tergerak hatinya dan merasa was-was dengan kondisi mereka.
Mereka takut akan ditimpah musibah seperti halnya umat terdahulu. Dalam kondisi
ini al-Qur’an sudah menyentuh hati dan menggugah pikiran mereka.
kedua, faktor
eksternal yang perlu dimengerti adalah berlemah lembut kepada objek (jamaah).
Menyampaikan pesan dengan nada yang enak didengar, tidak berdebat langsung di
hadapan orang banyak. Tapi, melakukan pendekatan secara personal, dari hati ke
hati. Metode tersebut akan lebih mudah diterima oleh masyarakat dibandingkan
dengan “menyinggung” mereka secara langsung. Disinilah perlunya seorang da’i
(penceramah) membedakan bahasa dakwah dan bahasa sehari-hari. Seorang da’i akan
lebih bisa diterima dan berpengaruh jika ia memakai banyak perumpamaan dan
kisah-kisah, ketimbang ia secara langsung menyinggung kemungkaran yang ada.
Tidak berarti hal itu tidak tegas, tapi hanya sebagai metode untuk mengambil
hati para jamaah.
Di samping itu, seorang dai harus sabar melewati proses panjang.
Berdakwah tidak mungkin langsung bisa diterima oleh masyarakat, maka lakukan
tahapan-tahapan dalam menyampaikan risalah dan ajaran al-Qur’an. Al-Qur’an
sendiri dalam berdakwah melakukan hal itu, misalnya keharaman khamar tidak
langsung, tapi melalui tiga tahapan, yaitu tentang mudaratnya (Qs. 2: 219);
Pelarangan sholat dalam keadaan mabuk (4:43); perintah menjauhi khamar (5:90) .
Hal itu mengikuti kesiapan mental dan kondisi masyarakat Arab kala itu. Da’i
sekarang juga bisa melakukan hal serupa. Jika kondisi masyarakat belum bisa
menerapkan semua ajaran-ajaran Islam, maka diajak untuk meakukan sesuai dengan
kemampuan. Sedikit demi sedikit mereka akan terbiasa dan merasa butuh dengan
ibadah tersebut. Demikian pesan ayat di awal tulisan ini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar